Kasus Pembunuhan & Mutilasi Hidup-Hidup di Brazil (Nara Aline Mota De Lima)

Daftar Isi
LINK REKAMAN VIDEO 
Video:
Foto:
*Jika saat diklik mengarah ke situs lain tidak ke video, langsung klik kembali (back) lalu klik ulang linknya untuk melihat video tanpa sensor*

BRAZIL — Sebuah video pembunuhan sadis yang menampilkan aksi mutilasi terhadap seorang perempuan dalam keadaan masih hidup sempat menghebohkan media sosial. Tayangan tersebut memicu kemarahan, kesedihan, sekaligus kesalahpahaman di kalangan publik. Banyak orang mengira korban adalah seorang bocah, padahal faktanya korban merupakan perempuan dewasa asal Brazil.

Kasus ini sebenarnya terjadi pada tahun 2018, namun baru menyebar luas pada 2020 setelah video penyiksaannya diunggah ke media sosial. Minimnya sumber informasi dalam bahasa Inggris maupun Indonesia membuat banyak orang salah menafsirkan identitas korban serta kronologi kejadian yang sebenarnya.

Latar Belakang Kasus

Korban diketahui bernama Nara Aline Mota de Lima, seorang perempuan berusia sekitar 23 tahun. Ia diduga terlibat dalam aktivitas jual beli narkoba di wilayah Barra do Ceará, Brasil, yang dikuasai oleh kelompok kriminal bernama Guardiões do Estado (GDE).

Di daerah tersebut, setiap kelompok kriminal memiliki wilayah kekuasaan masing-masing. Tidak ada pihak yang boleh menjalankan aktivitas ilegal di area kelompok lain tanpa izin. Nara Aline sebelumnya merupakan anggota faksi Comando Vermelho (CV), namun kemudian berpindah wilayah dan tetap menjalankan transaksi narkoba di area kekuasaan GDE.

Hal ini diketahui oleh anggota GDE dan dilaporkan kepada pemimpin mereka, Francisco Robson de Souza Gomes, yang dikenal dengan julukan “Mitol”. Meski saat itu sedang menjalani hukuman penjara, Mitol masih mengendalikan kelompoknya dari balik jeruji besi.

Penculikan dan Eksekusi

Pada suatu malam, sekelompok anggota GDE mendatangi rumah Nara Aline menggunakan mobil. Saat itu, Nara Aline sedang bersama dua temannya:

  • Dorcielle Ancelmo de Alencar (31 tahun)
  • Inggrid Teixeira Ferreira (22 tahun)

Awalnya, kelompok tersebut hanya berniat menculik dan membunuh Nara Aline. Namun karena kedua temannya dikhawatirkan akan melapor ke polisi, ketiganya dibawa sekaligus ke sebuah hutan bakau di kawasan Sungai Ceará.

Eksekusi terhadap tiga wanita itu terjadi pada 2 Maret 2018 di Vila Velha, Fortaleza.

Di lokasi tersebut, ketiga korban memohon ampun. Namun permohonan mereka sama sekali tidak digubris. Dorcielle ditembak di bagian kepala dan tewas seketika. Sementara Nara Aline dan Inggrid mengalami penyiksaan dan mutilasi dalam keadaan masih hidup.

Penyiksaan Sadis

Para pelaku memotong jari-jari korban menggunakan parang tumpul, lalu memutus kedua lengan dan kaki satu per satu. Setelah itu, leher korban ditebas berulang kali hingga akhirnya mereka meninggal dunia.

Di tengah kekejaman tersebut, Nara Aline menjadi korban yang paling menderita. Penampilannya yang kurus dan berambut pendek membuat banyak orang salah mengira ia sebagai anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun.

Penyiksaan difokuskan padanya: jari-jarinya dipotong, kedua tangan dan kakinya dimutilasi, lalu kepalanya dipenggal menggunakan senjata tumpul. Inggrid juga mengalami pemenggalan kepala secara brutal.

Potongan tubuh ketiga korban dibuang secara terpisah di berbagai lokasi. Polisi membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk mengumpulkan seluruh bagian tubuh. Identifikasi dilakukan melalui tes DNA karena kondisi jasad sudah tidak dapat dikenali.

Sebenarnya, dua korban terakhir hanya berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Target utama kelompok GDE adalah Nara Aline, yang dianggap melanggar wilayah kekuasaan mereka dengan tetap berjualan narkoba di area GDE.

Terungkap Lewat Media Sosial

Kasus ini terungkap setelah video penyiksaan beredar luas dan akhirnya sampai ke tangan keluarga korban. Pihak keluarga kemudian melapor ke kepolisian, yang langsung melakukan penyelidikan mendalam.

Dalam penyelidikan, terungkap bahwa dalang utama pembunuhan tersebut adalah Mitol, pemimpin GDE, yang memerintahkan eksekusi dari dalam penjara.

Pelaku utama yang terlibat antara lain:

Dalang & Perekam:

  • Francisco Robson de Souza Gomes (Mitol), 28 tahun
  • Jeilson Lopes Pires, 22 tahun (perekam video)

Para Algojo:

  • Antônio Honorato dos Santos (42)
  • Luiz Alexandre Alves Silva (23)
  • Diego Alves Fernandes (21)

Terdakwa lainnya:

  • Bruno Araújo de Oliveira (25)
  • Jonathan Lopes Clemente (19)
  • Júlio César Clemente Silva (30)
  • Rogério Araújo de Freitas (27)

Jaksa menuntut hukuman maksimal terhadap seluruh pelaku.

Akhirnya, semua tersangka berhasil ditangkap dan diadili. Rata-rata dijatuhi hukuman lebih dari 70 tahun penjara atas kejahatan keji yang mereka lakukan.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa kekerasan dan kejahatan hanya melahirkan penderitaan. Persoalan apa pun seharusnya diselesaikan dengan cara yang manusiawi, bukan dengan kekejaman.

Kejahatan bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja. Oleh karena itu, kewaspadaan dan kehati-hatian sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Semoga peristiwa tragis ini menjadi pelajaran agar kita menjauhi kekerasan dan selalu menghargai nyawa manusia.

Nara Aline Mota de Lima
Dorcielle Ancelmo de Alencar
Inggrid Teixeira Ferreira




Posting Komentar

-->